RSS

Nostalgia

01 Okt

Jauh sebelum Indonesia merdeka, seseorang pendekar hidup berkelana. Terus berjalan tanpa kenal lelah. Berbagai macam rintangan telah dilewatinya. Saat itu hari masih pagi, pendekar itupun bangun dari tidur lelapnya. Jauh di dalam hutan terdengar suara hentakan kuda yang sedang berlari. Pendekar itu langsung berlari menuju suara itu. Dengan kecepatan yang lebih cepat daripada suara, ia berlari melewati pohon – pohon yang berdiri kokoh di dalam hutan. Beberapa saat kemudian ia sampai di sumber suara tadi. Pendekar itu mengintip – intip dari belakang semak belukar yang melintang di depan kereta kuda. Seseorang turun dari kereta kuda itu. Seseorang yang memakai pakaian seperti raden turun dengan wibawanya. Pendekar yang mengendap – endap di semak itu kaget bukan main. Ternyata yang turun itu adalah teman seperguruannya sejak berguru ke Mbah Purnomo. Pendekar itu langsung melompat menghadang orang itu. “Apa kabar kau Samudra?” Tanya pendekar itu ke teman seperguruannya itu. “Subhanallah! Kau Panji, aku baik – baik saja bagaimana dengan kau?” Dengan kagetnya Samudra membalas pertanyaan Panji. Mereka bernostalgia kembali seperti dulu.

“Mari kita mulai.” Sahut Panji. Samudra bingung. Lalu Panji mengangkat – angkat alisnya. Kemudian Samudra mengerti apa yang dimaksud. Tiba – tiba satu tinjuan langsung dilesatkan Samudra menuju kepala Panji. Dengan gesitnya Panji menangkis pukulan itu dan langsung menbalas dengan tendangan menyapu. Samudra terjatuh. Seketika Samudra menghilang dari tanah. Panji memutarkan diri untuk mencari Samudra, namun tidak ada sama sekali tanda – tanda Samudra. Tiba – tiba daratan bergetar, air minum yang bergantung di kereta kuda jatuh. Pengendara kereta kuda pun kaget dan langsung berlindung ke dalam kereta. Dari bawah Panji berdiri, tiba – tiba keluar Samudra dan langsung memukul kepala Panji. Panji tidak bisa mengelak lagi, kepala terkena pukulan itu dan Panji terjatuh di dahan pohon. “Pantas kau di juluki pendekar tikus tanah, ternyata serangan kau memang dari tanah.” Sahut panji. “Seperti inilah latihanku selama 10 tahun kita tidak bertemu.” Kata Samudra. Panji langsung mengeluarkan tenaga dalamnya. Seketika angin kencang melanda hutan itu. Pohon – pohon trembesi bergoyang – goyang, Kereta kuda pun jatuh tergeletak beserta kudanya. Pengendara kuda pun bingung. Bergegas ia keluar dan berlindung di bawah pohon trembesi yang besar. Angin kencang masih berputar, Panji menggerakan seluruh badannya seperti menari sehingga tenaga dalamnya keluar. Lalu dihembuskannya angin dari mulutnya. “Wuuuuzzzz!!!” Angin besar keluar dari mulutnya menuju Samudra. Samudra terlempar jauh dan tersudut di dahan pohon bringin. “Memang tetap kau di juluki sebagai pendekar angin timur.” Kata Samudra yang terkejut melihat kekuatan yang amat besar dari Panji. “Itu belum seberapa, masih ada yang lebih hebat.” Sombong Panji sambil mengangkat tangan kanannya setelah menang dari duel seru itu. Lalu Panji membantu Samudra melepaskan ranting – ranting yang mengikat tubuh Samudra. “Kau jangan sombong begitu, masih banyak orang lebih kuat darimu ingat kata Mbah Purnomo.” Nasehat Samudra kepada Panji. Panji menganggukkan kepalanya. Kemudian pengendara kereta menghampiri mereka berdua. “Pertarungannya sudah selesai tuan? Saya sampai kebingungan mencari perlindungan dimana.” Sahut pengendara kereta itu. “Sudah selesai, oh maaf Slamet kami bertarung memang biasa seperti ini bila belajar dengan Mbah Purnomo dulu.” Jawab Samudra sambil menjelaskan kehidupan mereka berdua di masa lalu.

Akhirnya pertarungan ini dimenangkan oleh Panji dan Samudra harus menerima kekalahan dengan rasa hormat. Lalu Samudra mengajak Panji ke desanya, maklum ayah Samudra adalah seorang raja dan Samudra adalah seorang pangeran. Di perjalaan mereka berdua menceritakan hasil latihan masing – masing selama 10 tahun ini. Mereka saling berbagi pengalaman yang mereka lewati selama ini. Mereka memiliki banyak perbedaan, Samudra adalah anak bangsawan, sedangkan Panji adalah anak yang ditemukan di depan rumah Mbah Purnomo. Samudra memang sengaja berguru kepada Mbah Purnomo sebab ayahnya ingin ia menjadi ksatria hebat untuk negerinya, sedangkan Panji memang mau tidak mau harus mengikuti latihan. Samudra anak yang alim, santun, dan baik hatinya. Panji adalah anak yang usil, bandel, dan susah untuk diberitahu.

Akhirnya mereka sampai di desa tempat Samudra dan keluarganya tinggal. Mereka disambut hangat oleh rakyat. Sesampainya di istana ayah Samudra, Panji langsung melompat keluar dari kereta dan menimpa seorang abdi raja yang membantu Samudra turun dari kereta. “Panji apa yang kau lakukan. Minta maaf lah kepadanya.” Teriak Samudra memberitahu Panji yang nakal itu. Dengan memegang tangan abdi raja itu Panji meminta maaf dan memeluknya. “Owalah, tidak sampai seperti ini saya tidak apa – apa kok, badan saya masih kuat seperti mas.” jawab abdi raja itu. Setelah memeluk abdi raja itu, Panji melihat sekeliling istana. Panji terkagum – kagum melihat desa milik ayah Samudra ini.

Kemudian Samudra mengajak Panji masuk kedalam istana. Panji terpesona melihat ukiran – ukiran kayu yang menghiasi dinding – dinding istana yang amat megah itu. “Bagus sekali rumahmu ini Samudra, baru pertama kali aku melihat yang seperti ini. Seharusnya kau ajak aku ke rumahmu waktu kita masih kecil, kita bermain bersama disini kan.” Sahut Panji yang mengagumi istana itu. “Hehehe, iya juga ya. Mengapa aku terlupa mengajakmu kesini dulu, hahaha!” Jawab Samudra sambil tertawa terbahak – bahak. Semua abdi ikut tertawa mendengar celotehan tuannya itu. Seketika Panji menghilang dari hadapan Samudra. Semua bingung Panji menghilang. Semua orang mencari Panji. Semua orang panik mencari Panji, kecuali Samudra. Dengan kekuatannya ia bisa melihat dimana Panji berada. Akhirnya Samudra menemukannya, ternyata Panji sedang melihat kolam ikan di halaman belakang istana itu. Semua orang tertawa melihat Panji bermain dengan ikan. Panji memainkan mulutnya hingga seperti badut. Samudra akhirnya memegang tangan Panji erat – erat dan membawanya masuk ke dalam istana. Semua rakyat yang melihat kejadian itu terbahak – bahak hingga perut mereka terasa sakit dan akhirnya berhenti tertawa.

Di dalam istana kelakuan Panji berubah drastis. Berdirinya tegap, jalannya pun seperti orang penuh karisma. Samudra pun yang berada di sampingnya malu dengan perubahan Panji yang drastis itu. Lalu Samudra memanggil ayah dan ibunya. Ibu Samudra keluar dari kamarnya dan menghampiri mereka. Samudra bingung. “Pergi kemana ayah?” Tanya Samudra kepada ibunya. “Ayahmu belum pulang dari berburu tadi pagi. Sudah sore begini dia belum pulang.” Jawab ibu Samudra. “Sudah ada yang mencari ayah, bu?” Tanya Samudra lagi. “Sudah ibu suruh, namun belum pulang juga mereka.” Jawab ibu Samudra dengan rasa khawatir. Tiba – tiba Panji menundukan kepala sambil menggerutu. Seketika Panji menghilang. Secepat kilat Panji menuju hutan. Samudra dan ibunya menunggu di istana dengan khawatir.

Panji melesat bagaikan petir menyambar. Akhirnya Panji berhenti di belakang pohon trembesi. Panji melihat ayah Samudra tergeletak di tanah. Bergegas Panji mengangkat ayah Samudra yang sedang sekarat. Saat melihat wajah ayah Samudra, Panji mengingat masa pada saat ia sedang kesusahan. Ayah Samudra memberi Panji makanan sekaligus ilmu bela diri. Walaupun hanya sedikit, Panji masih mengingatnya hingga sekarang .Setelah mengangkat tubuh ayah Samudra, tiba – tiba seekor harimau menyerang Panji. Dengan sigap Panji menepis cakar harimau itu balas menyerang dan memukul badan harimau itu. Harimau itu terpental jauh. Namun harimau itu pantang menyerah. Dengan auman yang sangat besar harimau itu menyerang dari jarak jauh. Aumannya sungguh besar sehingga dahan – dahan pohon jatuh menimpa mayat – mayat kuda yang tergeletak di tanah. Suara auman itu hampir merusak sistem pendengaran Panji. Panji mengambil sebatang dahan pohon dan melempar dahan itu langsung mengarah ke mulut harimau itu. Harimau itu langsung diam tersedak dahan pohon. Mulutnya berlumuran darah. Rasa sakit tak terhingga dirasakan harimau itu. Lalu harimau itu mencabut dahan pohon itu dan membalas melempar ke arah Panji. Kaki Panji tertancap dahan itu. Luka robek yang amat besar terbuat oleh dahan itu. Lalu Panji meletakkan tubuh Ayah Samudra di bawah pohon. Setelah itu Panji mulai mengeluarkan tenaga dalamnya. Angin besar yang menjadi kekuatannya kembali datang. Kemudian Panji memukulkan tangannya ke arah harimau itu. Dari arah yang amat jauh ia melesatkan angin dari tangannya seperti silet besar yang berputar dengan amat cepat menuju harimau itu. Harimau itu tidak bisa mengelak. Angin itu membelah tubuhnya hingga terbelah dua. Harimau itu mati dalam sekejap. Kemudian Panji kembali mengangkat ayah Samudra yang sekarat. Panji pun langsung pergi menuju desa.

Sesampai di desa, semua rakyat berhati cemas. Semua takut akan keadaan rajanya. Sang raja hanya tertidur di pundak Panji. Semua sedih melihatnya. Samudra masih menunggu di istana. Hatinya sungguh sedih. Apalagi ibunya, yang hanya tergeletak pingsan di tempat tidur setelah melihat sang suami yang memiliki dua kemungkinan, antara mati atau sekarat. Ayah Samudra ditidurkan di meja yang besar tempat menaruh makanan. “Terima kasih Panji, kau mengembalikan ayahku ini.” Sahut Samudra yang amat berterima kasih kepada Panji yang telah menemukan ayahnya itu. “Untung dia masih hidup, bila terlambat sedikit saja pasti dia dimakan macan.” Balas Panji sambil mengusap keringat yang bercucuran di mukanya. Lalu Panji beristirahat di kamarnya. Dia sangat kelelahan setelah berkelahi dengan harimau tadi. Namun keadaan di istana sangat mencekam. Semua terpaku kearah Raden Wijaya, ayah Samudra. Raden Wijaya masih terkapar di meja dan masih diobati oleh tabib yang terhebat di desa itu. Untunglah luka Raden Wijaya hanyalah luka luar. Hanya sayatan bekas tercakar oleh cakar harimau yang menyerang itu.

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada 10/01/2008 in Uncategorized

 

2 responses to “Nostalgia

  1. nidie cara

    10/09/2008 at 4:11 AM

    wah iza ceritanya bikin sendiri? keren-keren!

     
  2. orang iseng

    10/10/2008 at 1:15 PM

    trus samudranya kok gak ikutan action?

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: