RSS

MOKS (Masa Orientasi dan Kedisiplinan Siswa)

18 Des

Saat itu siang menuju sore. Aku bersama keluargaku melangkah dengan gagah ke asrama SMA Presiden, tepatnya kamar B1-08. Disana telah sibuk 2 orang ibu yang sedang sibuk membereskan kamar itu. Disana pun berdiri seorang bapak dan anaknya ikut membantu 2 orang ibu tersebut. Kami berjalan dan saling bertegur satu sama lain. Aku pun diperkenalkan dengan anak tadi. Ia bernama Muhammad Febrian Ramadhana bisa juga disapa Febrian atau Rian. Pertama kali ku melihatnya aku berpikir dia adalah anak yang berwibawa. Lalu aku menaruh semua barangku di lemari yang telah ku pilih. Aku memilih tidur di sebelah Febrian. Ibuku yang cekatan langsung membereskan lemari diantara tempat tidurku dan tempat tidur Febrian. Dengan tissue basah ibuku mengelap semua kotoran yang ada di laci. Tiba – tiba dari luar kamar datang seorang penghuni pertama kamar B1-08. Kami saling bertepuk sapa. Namanya Pradirga Grahadiwin bisa dipanggil Iega yang berasal dari Tanjung Pinang. Dia datang bersama teman sekolahnya yang saat itu dia belum dapat kamar dan masih menumpang di kamar kakak kelas.

Hari sudah mulai malam. Adzan maghrib telah berkumandang. Para orang tua sudah diusir oleh para pembina. Namun masih saja ada orang tua yang masih ingin memeluk anaknya yang akan mereka tinggal selama 1bulan. Akhirnya semua orang tua pulang kerumah masing – masing hanya para calon murid baru SMA Presiden yang masih berada di asrama. Kami disuruh turun ke depan asrama perempuan kelas 12 dan kelas 11. Saat itu kami semua berkumpul dalam dua kelompok. Dibagi menjadi kelompok pria dan kelompok wanita. Kami langsung dipimpin oleh kakak kelas. Kami menuju ruang makan dan masing dalam bentuk barisan. Kami masuk ruang makan satu persatu. Sebelum memasuki ruang makan kami wajib berhormat kepada sang merah putih yang berdiri kokoh berseberangan dengan bendera SMA Presiden. Kami semua masih bingung cara hormat lalu masuk kedalam sambil menyerukan kata “masuk!!.” Suatu ketika ada salah seorang murid menyerukan kata yang salah bukan kata “masuk” yang dia serukan, namun kata “hormat!!.” Kami semua tertawa namun langsung terdiam ketika kakak kelas menegur kami. Setelah kami masuk semua dan duduk di tempat yang telah tersedia, kami diajarkan cara kebiasaan sebelum makan di SMA Presiden. Pertama – tama komando dari kakak kelas dengan duduk siap. Lalu ketua DKS memukul bel satu kali berarti memulai berdoa ketika memukul bel dua kali berarti doa selesai. Lalu kami di istirahatkan dan mengambil makanan yang telah tersedia. Lalu diberi aba – aba kembali dengan selamat makan. Kami makan dengan lahap. Lalu ketua DKS memberhentikan makan. Lalu kami diberi aba – aba kembali untuk berdoa. Setelah itu kelas 12 dipersilahkan terlebih dahulu untuk keluar ruang makan, lalu kelas 11 dan yang terakhir kami kelas 10.

Lalu kami dibawa kakak kelas ke sekolah. Seperti tadi masuk ke ruang makan, masuk ke sekolah pun harus dengan hormat karena menghormati sangkaka merah putih yang selalu berdampingan dengan bendera SMA Presiden. Dan lagi – lagi salah seorang murid menyerukkan kata hormat kembali. Tapi kali ini kami semua diam. Lalu kami dibawa ke ruang guru. Kami pun diajarkan bila sebelum mejawab pertanyaan kakak kelas kami wajib menyerukan kata “siap!!” disambung dengan jawabannya. Lalu kami di absen satu persatu. Sampai disaat terakhir teman Iega yang belum mendapatkan kamar tadi tidak disebut dan itu makin membuatku berpikir bahwa ia tidak lulus tes masuk SMA Presiden, namun setelah diabsen semuanya kakak kelas menyuruh para murid baru yang belum disebut ke depan dan menuliskan namanya di kertas absen. Setelah itu kami diberi intruksi untuk besok agar bangun pagi jam 4.30. Setelah itu kami diberi catatan lagu dan Prasetya Siswa. Kami sangat kebingungan menghafalkan Prasetya Siswa karena isinya panjang dan wajib dikumandangkan setiap pagi pada apel batalyon. Kemudian kami diberi kelas masing – masing secara acak namun belum kelas yang tetap. Aku masuk dalam kelas B. Lalu kami dipersilahkan pulang dan wajib dalam barisan perkelas. Kami semua kembali ke kamar untuk mempersiapkan barang yang akan kami pakai esok pagi dan langsung tidur. Kami para penghuni kamar B1-08 dan penghuni baru B1-08 yang Kandiyas Tigor Audi Nainggolan atau sering disebut Igon menyiapkan barang untuk esok hari. Lalu aku menanyakan Febrian “lampunya matiin enggak?” Febrian hanya memberi respon “hah?” Kutanya kembali “Lo biasanya kalo tidur matiin lampu enggak?” Lalu Febrian menjawab “Oh udah nyalain aja.” Beberapa saat kemudian, kaca pintu kamar kami diketuk – ketuk. Kami semua bingung kami kira kami akan dimarahi habis – habisan. Saat itu pun aku sedang tidur pulas dan terbangun. Lalu pintu luar kamar kami diketuk dan seorang kakak kelas masuk dengan mudahnya karena saat itu kami belum memiliki kunci pintu dan hanya menaruh kursi secara terbalik di depan pintu agar sulit dibuka. Lalu datang kakak kelas yang bernama Samuel Pardamean Justin Sirait atau disapa dengan kak Isam. “Eh lo kok enggak merespon gue yang udah ngetok – ngetok jendela.” Kata kak Isam “Kalo ada yang ngetok lo harus jawab dong.” Karen aku tidak tahu apa – apa jadi aku hanya diam saja dan mengiyakan jawaban tersebut dan meminta maaf. Ternyata kami ditegur sebab lampu kamar kami masih menyala dan lalu kami mematikannya. Kami semua bingung dalam satu kamar. Iega dan Igon yang saat itu sedang meinkmati masing – masing segelas kopi kaget bukan main. Lalu kami semua tidur dengan tenang.

Jendela kembali diketuk dipagi hari. Kami semua terbangun dan sigap untuk mengisi absen yang letaknya di depan asrama perempuan kelas 10. Tempat itu telah dipenuhi oleh teman – temanku yang lain. Lalu kami kembali ke kamar dan siap – siap ke musholla bagi yang muslim dan agama lain ke tempat yang telah disediakan kakak kelas. Karena hari ini hari Senin maka kami mengikuti peribadatan. Lalu kami bersiap – siap untuk makan pagi. Kemudian pukul 6.20 kami telah dipanggil dengan peluit untuk ke tempat apel di depan asrama. Lalu kami makan yang hanya berdurasi sebentar saja. Lalu kami berbaris perkelas dan berjalan ke arah sekolah. Sebelum masuk gerbang sekolah kami semua harus melakukan langkah tegap dan setiap ketua kelas wajib hormat kepada satpam. Itu sudah menjadi kebiasaan kami yang harus terus dilestarikan. Kami pun kembali ke ruang guru yang telah menjadi aula tempat para siswa baru berkumpul. Lalu kakak kelas masuk dan memanggil satu orang temanku yang bernama Aditya Pratama. Ia disuruh mengucapkan Prasetya Siswa, namun ia masih lupa. Maka dari itu ia dihukum sebelum dihukum ia ditanya hobi dia oleh kakak kelas. Lalu Adit menjawab “renang kak.”Lalu salah satu kakak kelas menyerukan ” wah! seru nih.” Lalu kakak kelas yang tadi menyuruh Adit naik ke atas meja yang ada di pinggir ruangan. Adit disuruh untuk mempraktikkan gaya bebas. Kami semua ingin tertawa namun itu sama saja mencari mati. Lalu kami semua mengikuti acara yang telah dijadwalkan sebelumnya. Semua berlalu begitu saja dan kami memasuki acara perkenalan. Akhirnya kami mengetahui kakak kelas yang paling kami sebel. Ia bernama Anugrah Firdauzi. Kami sangat ketakutan bukan main jika dia melotot hingga seperti bola matanya copot. Semua anak memberitahu nama, asal daerah, dan asal sekolah.

Hari berlalu begitu saja. Pada hari ketiga kami moks, kami langsung diberi tes tentang hal yang telah disampaikan selama ini. Kami semua mendapat nilai nol. Hanya beberapa orang saja yang mendapat nilai satu. Kami semua di hukum dengan push up. Namun ada seseorang temanku tertawa karena terpikir olehnya seruan kepala sekolah SMA Presiden Kolonel Laut Cornelius Suyadi, MM. atau sering disapa pak Yadi. Tertawaan temanku itu terdengar oleh seseorang kakak kelas. Lalu ia dihukum tertawa selama 10 menit. Namun ia tidak tertawa malah tertawanya seperti tertawa meledek. Kakak kelas marah. Lalu mereka menyuruh temanku memakai microphone. Kami semua menahan tertawa yang tak terhingga. Itu adalah momen terlucu kedua selama moks dimulai. Di hari ini aku juga mendapatkan kiriman, tetapi aku tidak mau mngambilnya karena kalau ingin mengambil kiriman kita harus menerima hukuman yaitu lari di jalan depan asrama 10 kali bolak – balik.

Hari berlalu semakin cepat terasa. Padahal waktu hari pertama dan kedua rasanya sehari itu bagai se-abad. Pada hari sabtu, kami diberi nama suci ke setiap masing – masing orang. Kami pun mendapat buku suci yang diharuskan untuk melengkapi buku suci itu. Buku suci adalah sebuah buku yang harus diisi dengan kesan dan tanda tangan warga SMA Presiden. Minimal 116 tanda tangan siswa atau staff. Pada halaman itu kita harus mencantumkan nama suci kita. Aku mendapatkan nama yang unik. Namaku Bobi pada saat itu dan akan terus menjadi Bobi hingga moks berakhir. Iega bernama Nampol, Igon bernama Kaplang, dan Febrian bernama Bean (Be-an). Setiap nama memiliki arti dan makna masing – masing. Tetapi hingga saat ini aku masih mengetahui arti nama Bobi yang sebenarnya. Menurut teman – teman Bobi berarti botak biadab. Aku memang agak sedikit marah dengan nama itu, namun aku juga gembira karena namaku seperti nama seorang bule. Dan menurutku namaku juga tidak terlalu aneh. Sorenya kami semua giat mencari kakak kelas karena waktu sore adalah waktu ishoma atau istirahat sholat makan. Pertama aku mendapatkan tanda tangan pak Ujang Sulaeman, dankorsis SMA Presiden dengan gratis. Lalu aku mendapatkan tanda tangan kak Regan Januardy Marliau yang juga seorang panitia moks dengan sedikit usaha yaitu bermain peran dengan tiga orang temanku. Lalu aku melihat ada seseorang kakak kelas yang sedang berdiam diri di pinggir jalan besar dalam asrama. Ia bernama Theodore Manggala Amarendra atau dipanggil Kak Dora atau Kak Theodore. Aku mendapatkan tugas bersama dua temanku untuk mempraktikkan gaya seorang homo. Akhirnya aku mendapatkan 3 tanda tangan. Karena semua kakak kelas ramai dikerubungi oleh teman – teman, aku jadi malas mencari lagi. Akhirnya ku memilih untuk tidur di kamar. Ternyata di dalam kamar sudah ada Febrian sedang tidur. Sepertinya ia lebih mudah menyerah daripada aku. Ia baru saja mendapatkan satu tanda tangan dari Pak Ujang. Malamnya kami mengikuti acara kreasi seni dan budaya yang sebelumnya juga sudah dilaksanakan pada 5 hari sebelum acara malam ini. Tema malam ini adalah budaya. Kami dikelompokan sesuai suku kami. Karena aku orang jawa maka aku masuk ke grup jawa. Kami harus memeragakan seni dari daerah kami masing – masing. Lalu malam ini aku tampil sebagai pemain gendang. Acaranya sukses. Lebih baik dari yang sebelumnya. Dan pemenang dari acara itu adalah suku – suku dari sumatra. Dengan nyanyian dan tarian yang bagus mereka sumbangkan dengan baik.

Pada hari Minggu pertama kami di SMA Presiden. Kami semua dikejutkan oleh kakak kelas dengan dibangunkan pukul 00.15 dan harus memakai pakaian lengkap beserta pita kuning yang menandakan kami adalah seorang murid yang sedang mengikuti moks dan papan nama suci. Kami harus merayap keluar kamar dan menuju sekolah. Sampai – sampai ada temanku yang tidak memakai pakaian lengkap hanya memakai celana kolor dan tanpa memakail sepatu sama sekali. Sesampai di sekolah kami langsung menerima hukuman dengan push up setiap barang yang kami tidak bawa. Karena ku tidak kuat menahan sakit asmaku aku menyerah diberi perawatan oleh kakak kelas yang bernama Azifa Alivia Fuadi yang sering disapa kak Via. Banyak temanku yang terkapar keletihan. Kami semua keletihan. Di sore hari kami boleh bermain futsal atau basket sesudah rambut kami digunduli. Saat aku bermain futsal. Aku menemukan sosok seorang pemain hebat dalam angkatanku di SMA Presiden. Permainannya sungguh memukau perhatianku. Skill mengolah bola yang baik dan juga memiliki visi yang bagus dalam mengoper bola. Muhammad Irhamsyah namanya. Biasa dipanggil Irham. Skillku kalah jauh darinya. Tendangannya pun kencang dengan rotasi bola yang sangat baik. Walaupun kemampuannya berbeda jauh dengan teman – temanku pada masa SMP, tetapi untuk ukuran SMA yang baru mendapatkan lima angkatan sudah lumayan mendapatkan pemain futsal seperti Irham. Aku yang hanya mengandalkan kekuatan badan masih terlalu jauh untuk disejajarkan dengannya. Sungguh ku terkesan sore itu. Aku mempunyai teman seperti dia yang bisa mengatur tim futsal dalam angkatan lima ini. Kemampuan Iega dan Igon pun cukup menarik perhatian, sayang tidak secermelang Irham. Dan saat itu juga kepalaku yang sudah gundul makin digunduli karena tuntutan sekolah yang sudah menjadi pembinaan tradisi di SMA Presiden. Dan di saat yang sama datang seorang murid baru yang bernama Rahadian Ali Zainal Abidin bisa disebut Ali.

Di hari Kamis minggu kedua datang seorang perempuan kecil yang juga teman kami. Ia terlambat datang karena ingin melihat hasil UNnya. Ia bernama Galuh Tara Savitri biasa dipanggil Tara. Di saat itu pula Igon mulai merasakan gejolak darah yang tak bisa dipungkiri. Ia mulai tertarik terhadap Tara. Kami pun sering mengejeknya apalagi ada dua orang sejoli yang bernama Aulia Absari Khalil dan Anisa Awalin yang selalu berdekatan. Sebenarnya bukan bermaksud serius, namun Anisa Awalin hanya membuat lelucon saja agar dalam MOKS ini ada sedikit refreshing. Disamping itu juga ada seorang anak yang memperlihatkan kelihaianya untuk mendekati seorang perempuan. Ia bernama Rachmat Darma Setiawan dan sering dipanggil Dimas. Dia sedang mencari perhatian dari seorang Cindy Lestari Marshaliana yang biasa disebut Cindy. Kelakuan Dimas memang sangat keterlaluan hingga membuat suatu komplotan. Aku tidak tahu menahu soal hal itu semua. Aku hanya menjadi penonton.

Setelah seminggu kami menerima buku suci, aku hanya baru bisa mendapat 20an tanda tangan. Padahal teman saya sudah ada yang mencapai 60, suatu angka yang fantastis. Aku pun mulai mencari tanda tangan yang lebih banyak namun aku juga tidak sangat berniat untuk mencarinya dan hanya mendapat tanda tangan maksimal tiga dan minimal nol. Suatu angka yang sedikit untuk berusaha. Makin banyak tanda tangan kakak kelas yang ku dapatkan, namun tidak satu pun panitia moks yang mengisi halaman dua buku suciku. Aku sangat bersemangat walaupun aku mengerti hukuman yang akan aku dapatkan bila saja buku suciku tidak terisi penuh.

Pada hari sabtu minggu kedua kami mengikuti moks, kami mendapatkan teman satu lagi. Namanya Bagaskara hanya itu. Nama yang sangat singkat. Ia juga biasa dipanggil Bagas. Saat itu rambutnya sangat panjang hingga membuat kami bernostalgia dengan rambut panjang yang kami miliki dulu. Ia telat masuk karena satu hal yang sangat fatal. Ia baru saja operasi pengambilan alat yang ditanam di tulang kering sebelah kanan karena tiga tahun lalu ia kecelakaan motor dan kaki kanannya patah. Saat kami melihat kaki kanannya, kami sangat ngeri. Tidak bisa berkata apa – apa. Kakinya berwarna biru karena isinya penuh dengan darah kotor.

Di minggu ketiga, kami mulai merasakan senang karena tinggal seminggu lagi kami mengikuti MOKS dan di hari sabtunya kami bisa bertemu orang tua. Pada hari sabtu kami akan mengikuti OC singkatan dari Opening Ceremony. Disitulah kami resmi menjadi anak murid SMA Presiden. Hari – hari kami hanya diisi dengan latihan PBB karena kami harus bisa melakukan dengan baik ketika kami berposisi sikap sempurna saat OC. Lelah memang, tetapi demi memperlihatkan orang tua bahwa kami telah menjelma menjadi orang yang dididik SMA Presiden kami harus siap kapan pun dimana pun. Pada suatu hari kami diberi tugas untuk membuat surat cinta untuk kakak kelas. Lalu dikumpulkan esok harinya. Aku bingung mencari kakak kelas yang akan kujadikan korban. Aku putuskan untuk menulis ke kak Via. Dengan segala kata – kata yang tidak jelas aku menulis surat cinta itu. Dan akhirnya selesai juga dan ku kumpulkan.

Seminggu telah berlalu. Saatnya ku menunjukan diri pada orang tua bahwa aku bisa. Dengan berpakaian almamater dan baret, kami melakukan langkah tegap dari rumah contoh ke tengah lapangan. “Brek! Brek! Brek!” Suara sepatu pdh ( pakaian kami menggema hingga ke dalam sekolah. Aku mencari – cari ayah dan ibuku duduk. Namun aku tak melihat mereka. Sambil melakukan sikap sempurna, aku masih mencari orangtuaku. Laporan upacara sudah berlalu. Prasetya siswa dan kode kehormatan siswa pun telah diucapkan. Pemegang bendera SMA Presiden telah berganti. Berarti sekarang saat untuk pak Bambang Mulyanto memberikan amanat. Suatu jalan yang cukup panjang untuk bertemu orangtua kembali selama 3 minggu tidak bertemu. Pengucapan amanat yang sangat lama dari pak Bambang. Kaki semua yang sedang sikap istirahtat sangat pegal dan gatal. Kami harus berusaha sekuat tenaga untuk menahan badan kami agar tidak bergerak. Namun kaki kami sudah tidak kuat lagi dan bu Manna Manik, pembina asrama kami menyuruh kami untuk menggerakkan kaki. Kami semua pun menggerakkan kaki kami. Pegal kami terselesaikan. Tetapi dari barisan kakak kelas 11 telah tumbang satu kakak kelas. Ia pingsan dan terjatuh. Ini semua karena amanat yang terlalu lama. Lalu saatnya aku menunggu kedatangan orangtuaku karena inilah sesi mengambil foto. Ibuku datang bersama adikku untuk mengambil foto. Namun ayahku tidak datang. Aku bingung. Aku takut akan keadaan ayahku. Sesi foto pun usai dan akhirnya kami semua dipersilahkan duduk.

Upacara telah selesai. Saatnya mencari ibuku untuk menanyakan ayahku. Ternyata ibuku sedang duduk bersama adikku di sebelah ibu Iega dan kakaknya. Aku pun menanyakan ayahku. Ternyata ayahku sedang menuju ke SMA Presiden karena dia baru saja pulang sehabis bermain golf. Lalu aku mengambil makanan bersama mereka. Tersedia banyak makanan disana. Ada juga pizza, kebab, dan fast food, tetapi ini semua memerlukan uang. Saat ini juga aku akan mengambil banyak barang kiriman karena hari ini bebas dengan hukuman kiriman. Aku mendapat banyak sekali barang. Lalu ayahku datang dan langsung berkomentar “Kamu tambah item ya za.” Memang selama di MOKS ini aku berada selalu di bawah sinar matahari dan itu membuat badanku lebih hitam. Aku pun juga memberi salam kepada supirku. Aku sudah merindukan semua orang yang ada di rumah. Tetapi masih ada waktu seminggu lagi untuk melakukannya.

Hari Sabtu sudah berlalu, namun bukan OC lah puncak acara MOKS. Acara itu ada pada hari akhir kami melaksanakan MOKS. Kami mulai mengawali minggu akhir ini dengan motivasi “7 hari lagi pulang.” Kata – kata itulah yang selalu memotivasi kami selama minggu terakhir ini. Hari itu Minggu malam. Kami semua dibawa kakak kelas ke sebuah tempat yang bernama Paladio. Kami semua diperintahkan untuk memakai baju berkerah dan celana training. Kami dikumpulkan di depan Paladio. Ternyata hari ini adalah hari untuk jurit malam. Ini adalah uji mental khas SMA Presiden. Kita harus berjalan ke tempat tujuan, namun diantara itu kita harus mengikuti rute yang telah disiapkan. Ada pos – pos yang dijaga oleh kakak kelas yang memakai kostum hantu. Kita semua ditakut – takuti. Malam itu adalah malam yang sangat seru. Tapi juga membuat trauma kami karena kita harus melakukan itu tiap tahun untuk mengambil evolet untuk almamater. Pada hari Selasa kami berjalan ke Taman Makam Pahlawan. Disana kami mendoakan para pahlawan yang dikubur disana. Sebelum memasuki makam kami harus mengadakan upacara terlebih dahulu. Akhirnya kami pun pulang ke asrama dan kembali beristirahat.

Pada hari Rabu adalah hari untuk hukuman buku suci. Namun pada saat itu aku sedang sakit asma. Asmaku saat itu kambuh dan aku tak bisa bernafas. Untunglah aku membawa obat yang sudah menjadi temanku saat asmaku kambuh. Aku pun tidak ikut bersenag – senang dengan teman – temanku yang asyik terkena hukuman. Esoknya asmaku sudah hilang. Dan hari ini adalah hari puncak hukuman buku suci. Kami semua yang laki – laki harus memakai pakaian perempuan dan perempuan sebaliknya harus memakai pakaian laki – laki. Kami semua berjalan – jalan keluar sekolah sambil menggodai para orang yang kami lewati. Sungguh 3 hari yang amat menggembirakan namun juga menjengkelkan.

Hari ini hari Jumat. Tinggal selangkah lagi aku akan kembali ke rumahku yang tercinta. Namun untuk mencapai hari esok, aku harus melewati 2 acara yang amat berat. Pagi ini aku harus sudah menyiapkan peralatan dan perlengkapan untuk kemah di Paladio. Lalu kami dikumpulkan di depan sekolah untuk diberikan instruksi. Kami semua harus mengeluarkan semua barang di dalam tas kami untuk dicek. Aku sangat kesal karena sudah susah ku masukan ke dalam tas, sekarang harus dikeluarkan lagi untuk dicek. Kami juga diberi grup untuk kemah nanti. Lalu kami dibawa ke Paladio, namun kami harus lewat rute lain yaitu melewati jalan di pinggir kali belakang President University. Jalan sangat sulit. Banyak tumbuhan berduri. Di pinggir kali pula. Lalu kami sampai di tenda lapangan Paladio. Disana kami harus mengikuti upacara pembukaan kemah. Lalu kami harus mengikuti acara wide game. ini adalah game seperti jurit malam, namun di setiap pos semua kakak kelas tidak memakai kostum hantu. Kita harus menurut semua kata kakak kelas. Di setiap pos mempuanyai tema yang berbeda. Timku yang bernama mati satu tumbuh seribu harus jalan terlebih dahulu. Semua pos sangat susah untuk dilewati. Dan kami pun datang terlebih dulu. Kami puas sudah melewati ini semua. Acara berat sudah satu terlewati. Malamnya kami mengikuti acara api unggun. Kami semua harus menunjukkan pentas yang sudah dipilihkan temanya. Aku mendapatkan tema drama india. Aku menjadi penari india. Acaraku sukses dan banyak yang tertawa. Lalu kami semua menikmati makanan barbeque. Ada wedang jahe, teh ,dan kopi hangat. Setelah itu kami semua istirahat dan tidur. Di pagi hari kami melakukan lari pagi dan makan. Lalu kami melakukan outbound, acara utama pada MOKS ini. Setiap grup berjalan dengan ditemani seorang kakak kelas. Kami harus melewati setiap pos yang ada dalam rute. Sebelumnya kami tidak tahu peta. Hanya diberi instruksi untuk mengikuti arah jalan  yang telah ditaruh ditempat yang ditentukan. Pos pertama adalah pos jaring laba – laba. Kita harus melewati jaring yang seperti jaring laba – laba. Lalu di pos kedua kami harus melintasi kali yang cukup kotor. Bukan kotor karena sampah, namun karena lumpurnya yang berwarna hitam. Kami harus melintasi secara bolak – balik. Lalu kami diberi makan oleh panitia. Karena makanannya kurang enak, aku pun tidak makan. Aku hanya memakan lauknya saja agar setidaknya mengisi perutku yang kosong ini. Aku juga minum air putih yang banyak untuk mengenyangkan perutku. Kami melanjutkan perjalan dan melewati bermacam – macam pos yang isi adalah stunt pada acara outbound. Dan sampailah kami pada pos terakhir sebelum kembali ke sekolah. Inilah puncak acara pada MOKS. Kegiatan yang cukup menyenangkan, namun cukup menjijikan. Kegiatan yang cukup menguras keringat. Kegiatan ini adalah merayap di lumpur. Seru memang, tetapi banyak merasa jijik karenanya. Banyak yang menemukan keong saat merayap. Setelah merayap kami harus bermandikan lumpur. Mencuci muka dan keramas dengan lumpur. Sungguh sangat seru. Tetapi baju kami semuanya kotor dan bau lumpur. Setelah itu kami harus menunggu teman – teman yang sedang berjemur di lumpur. Setelah selesai semua kami membentuk barisan sesuai kelas kami masing – masing. Kami berjalan menuju sekolah. Disana telah menunggu orang tua kami yang ingin menjemput pulang. Kami semua merasa bahagia karena kami akan pulang. Sesampai di sekolah, kami harus mengikuti upacara penutupan MOKS. Dalam barisan aku melirik ke kanan dan kiri untuk mencari orang tuaku. Setelah aku melihat sekeliling aku belum juga menemukan mereka. Aku malah menemukan supirku bersama adik dan eyangku. Seusai upacara kami disiram dengan air dari panitia. Lalu aku kembali ke asrama untuk mencuci pakaian dan bebenah untuk kembali pulang. Setelah selasai membereskan pakaian, aku kembali ke sekolah untuk mengambil surat ib. Disana supirku telah memegang surat ib ku dan akhirnya aku pulang ke rumah setelah sebulan di SMA Presiden.

 
5 Komentar

Ditulis oleh pada 12/18/2008 in SMA Presiden

 

5 responses to “MOKS (Masa Orientasi dan Kedisiplinan Siswa)

  1. igon

    12/22/2008 at 4:41 AM

    GOKIL BGT ! tapi kenapa bagian gue selalu yg jelek2 !! hahaha
    update lg dong yg baru2 . banyak bgt cerita seru d smap ..
    gue pembaca setia blog lo deh ..
    hahhaha

     
  2. anugerahf

    01/24/2009 at 6:33 PM

    Saya nggak nyangka Mirza bakal mikir kaya gitu. Maaf kalau kakak2nya galak. Apalagi saya. Mungkin kamu nggak suka, tapi saya dan kawan2 sudah berusaha semaksimal mungkin membuat acara MOKS yg lebih baik dari tahun sebelumnya. Kalau kami marah, kami nggak bisa sembarang marah. Harus dipikir dulu tujuan dan manfaatnya. Kami pun nggak bisa terus2an marah karena mikir mental kalian juga. Pada akhirnya, kalau kamu nanti aktif di organisasi dan mungkin jadi panitia MOKS, kamu mungkin bisa ngerti kenapa kami harus segalak itu. Saya pun berani galak seperti itu karena panitia MOKS itu sudah solid. Dengan menjadi kakak yang galak, kami pun mengambil resiko dibenci adik kelas, yaaaa seperti kamu terhadap saya ini.
    Walaupun kami sudah lebih senior, kami pun nggak bisa macem2. Kalau kami salah, tetep aja harus dihukum. Seperti yang terjadi di hari terakhir MOKS sebelum outbond di mana semua panitia push-up 80 kali karena banyak yg telat.
    Ah, ini hanya sekedar komentar saya. Pada akhirnya persepsi kamu terhadap MOKS tetap terserah kamu sendiri.
    Oiya, di SMAP Bobi memang berarti botak biadap. Tapi nama sucimu belum tentu berarti itu, sebab kalaupun ada, botak biadap itu mengacu ke orang lain. Arti nama suci itu rahasia, jadi panitia nggak bakal ngasih tau yg sebenarnya.
    Terimakasih.

     
  3. owli

    04/25/2009 at 12:59 AM

    weihhhhh bob mantep bgd!!!!1lo emg jago dalam menulis sebuah karya sastra ho6x

     
  4. owli

    04/25/2009 at 1:00 AM

    weih mantep bgd bob!!!!!!!!!ampe2 kak anugrah buka mulut>>>waw!!!!!!!

     
  5. awwallin

    05/23/2010 at 11:23 AM

    Terharu gue Bob setelah bca berkali kali gue gg pernah bosan. Meski skg bru koment. Tetep terharu. Konyol juga.

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: