RSS

Kakak Beradik

07 Feb

Pagi hari ini sangat cerah. Burung berkicau dengan merdunya. Angin sepoi – mengiringi daun –  daun yang berguguran. Namun semua itu terkotori dengan berita buruk.

Panji baru terbangun dari tidur lelapnya setelah melewati pertempuran hebat kemarin. Badannya sudah terlepas dari rasa sakit akibat pertempuran itu. Namun luka goresan yang tersebar di badannya masih belum kering. Dengan bertelanjang dada ia meninggalkan kamar tidurnya. Hawa tidak menyenangkan menyembur badan Panji. Seluruh orang menunduk sedih disisi tubuh Raden Wijaya. Panji pun kaget bukan main. Panji langsung memegang bahu Samudra yang sedang menangis tersedu – sedu. Seluruh isi istana tak bisa menahan rasa sedih. Raden Wijaya berbaring tanpa nyawa di meja. Tabib tak dapat menolong lagi. Tubuh sang raja berwarna biru karena terkena serangan bertubi – tubi dari kemarin. Panji tak bisa berkata apa – apa. Ia anggap usahanya sia – sia untuk menyelamatkan salah satu dari gurunya itu.

Panji pun keluar istana untuk mnyenangkan hatinya. Olahraga pagi yang telat karena sudah terlalu siang. Hentakan kaki manusia terdengar seperti hentakan kaki kuda yang halus. Mengitari Desa Nongkojajar yang cukup luas. Sekaligus menajamkan jurus  –  jurus miliknya. Semua itu guna memperlancar ilmu bela dirinya. Tiba – tiba terdengar suara semak – semak bergoyang. Seperti suara manusia yang sedang berjalan. Panji menghembuskan udara dari mulutnya. Lalu semak – semak terbelah – belah. Terlihat sesosok manusia dengan seluruh pakaiannya hitam dan terpasang satu pedang besar dipunggungnya. “Siapakah engkau yang mempunyai tenaga dalam seperti itu?” Tanya orang tak dikenal itu. “Aku Panji dan kau siapa?” Balas Panji. “Aku pewaris tahta kerajaan di kaki Gunung Bromo.” Jawab orang itu. “K..k..kau kakaknya Samudra? kukira Samudra anak sematawayang.” Tebak Panji. “Ya… Seperti itulah. Kau pasti temannya Samudra. Hahahaha!” Tawa Orang itu. “Oya namaku Sakti” Kakak Samudra memperkenalkan dirinya. Setelah perkenalan usai, lalu Panji memberitahu berita buruk yang menimpa Raden Wijaya tadi pagi. Sakti kaget bukan main. Pikirannya kacau balau. Lalu  mereka berdua berlari kembali ke Desa Nongkojajar.

Matahari bersinar terik menyinari hutan.Pohon – pohon tumbuh subur membuat arah ke desa makin terlihat. Jalan setapak yang tercipta dari rerumputan makin memperjelas jalan ke Desa Nongkojajar. Dari semak – semak yang melintang di sisi kanan Panji tiba – tiba dari seekor macan yang sejenis dengan macan yang menyerang Raden Wijaya dulu. Macan itu menyerang Panji dengan kukunya yang tajam. Panji langsung mendorong macan itu dengan angin melalui tangannya. Macan itu terpental. Macan itu pun tak mau kalah. Ia mengeluarkan auman yang sangat keras melebihi suara petir. Panji dan Sakti menutup telinga untuk melindungi gendang telinga mereka. Lalu auman itu terhenti sejenak. Panji pun tak mau terlewat momen penting seperti ini. Ia mengumpulkan tenaga dalam ke pita suaranya. Setelah tenaga dalam itu terkumpul, Panji berteriak sekuat tenaga. Macan itu pun membalas dengan aumannya. Namun sayang, auman sang macan tak mampu melebihi kekuatan teriakan Panji. Teriakan yang diiringi dengan tekanan angin yang besar membuat sang macan tersungkur lemas. Disaat itu Panji membunuh macan itu dengan memukul tepat pada bagian jantung. Macan itu mati seketika.  Sakti terkagum – kagum melihat kekuatan Panji yang bisa mengeluarkan tenaga dalam dengan cepat dan sangat bertenaga. Kemudian mereka kembali melanjutkan perjalanan yang hampir mengancam nyawa mereka berdua itu ke Desa Nongkojajar. Desa Nongkojajar adalah ibukota dari kerajaan kecil yang bernama Kerajaan Rojolele. Kerajaan ini terkenal dengan bsladirinya. Hampir semua masyarakat desa menguasai ilmu beladiri. Ini adalah suatu mukzijat dari Allah swt yang diberikan kepada Kerajaan Rojolele. Walaupun beberapa kerajaan sempat mencoba menghancurkan kerajaan tersebut, namun sampai saat ini belum ada satu pun yang menggoyahkan benteng pertahanan mereka.

Panji dan Sakti pun akhirnya sampai di desa. Para penduduk desa kaget melihat pangeran pengganti rajanya kembali dari kepergiannya sejak 3 tahun silam. Mereka langsung menunduk menghormati anak sulung dari sang raja tersebut. Lalu Panji dan Kakak Samudra bergegas berlari ke istana. Terlihat tubuh Raden Wijaya sudah terbaring kaku dilantai yang dilapisi karpet tebal dan lembut dengan badan terbungkus dengan kain kafan yang diikat dengan kain yang berbentuk tali. Sakti langsung bersujud memeluk jasad ayahnya sambil menangis sedih kehilangan sosok ayah yang ia hormati.

“Kakak mengapa engkau pergi terlalu lama sampai hampir kehilangan momen penting seperti ini?!” Tanya Samudra dengan wajah yang lebam akibat tangis yang berlebihan disela amarah yang menyelimutinya. “Kakak baru saja menyelesaikan jurus yang dulu belum pernah disempurnakan. Aku melakukan ini juga untuk membanggakan ayah.” Jawab Sakti dengan santai walaupun air mata masih membasahi wajahnya. Pertengkaran kakak adik itu terus berlanjut hingga akhirnya sang ibu melerai mereka. Sang ibu yang tampak kesal kepada anaknya, melerai mereka dengan satu teriakan bernada tinggi. Mereka langsung terdiam ketika teriakan itu menangui telinga mereka. Pertengkaran itu disudahi dengan kedua belah pihak saling bertatapan muka dan berwajah kesal. Lalu sang kakak beradik tersebut terus mendoakan sang ayah yang sudah berbaring tanpa nyawa. Sesaat kemudian Sakti berdiri dan kembali ke kamar tidurnya. Samudra memasang tampang kesal kepada kakaknya. Sang ibu pun menepuk bahu Samudra dan berkata “Seperti itulah kakakmu, jangan lah kau kesal terhadapnya.”

Di pagi hari matahari menyinari dunia lebih awal dari biasanya. Sakti sudah bangun dari subuh tadi. Ia berlatih beladiri yang ia kembangkan saat ini. Mungkin di Desa Nongkojajar  Sakti hanyalah penerus tahta raja, namun dalam dunia persilatan ia sudah terkenal dimana – mana. Badannya lentur bagaikan karet. Pada saat Sakti sedang berlatih, sang adik mengajak bertarung tanpa sebab. Dengan muka masam Samudra mengambil kuda – kuda. Samudra menyerang lebih awal. Ia melancarkan pukulan melayang tepat mengarah pada dada. Namun Sakti langsung menghindar dan melakukan serangan balasan yang amat cepat. Sakti melompat ke arah bagian belakang tubuh Samudra yang sedang melayang. Sakti langsung melesatkan tendangan keras ke arah punggung Samudra dengan lututnya. Samudra terbaring kesakitan karena terkena serngan itu. Namun tiba – tiba tubuh Samudra tenggelam ke dalam tanah. Tubuhnya tenggelam seperti tanah itu bagaikan air. Lalu Sakti yang seperti tahu akan hal itu langsung menghentakan kakinya ke tanah dengan sekuat tenaga. Seluruh daratan bergetar bagaikan dilanda gempa bumi. Namun tidak ada reaksi dari Samudra. Tiba – tiba bumi terbelah menjadi dua tepat dibawah pijakan kaki Sakti. Ini seperti senjata makan tuan. Sakti terjatuh ke dalam belahan tanah itu. Di dalam belahan itu Sakti terkena pukulan dari seluruh penjuru mata angin. Tetapi Sakti dengan santainya menangkis seluruh pukulan itu. Saat tempo pukulan menurun, Sakti langsung mengerahkan seperempat tenaganya untuk mengeluarkan tenaga dalam. Terjadi ledakan kecil di dalam tanah dan itu membuat daratan bergetar. Lalu Sakti melompat dari belahan tanah tadi. Samudra langsung keluar dari dalam tanah dengan badan terbaring kesakitan. Namun Samudra tidak mau kalah. Ia langsung terbang menerjang badan Sakti. Sakti langsung menghindar dengan memindahkan badannya. Samudra terpelanting karena serangannya tidak mengenai sasaran. Samudra makin panas saja. Ia memasukan tangannya ke dalam tanah. Lalu dunia bergetar seketika. Kemudian tanah yang tepat di bawah kaki Sakti mejunjung tinggi ke atas. Namun hanya bagian luar badan saja yang naik. Sakti terkurung di dalamnya. Ini seperti kurungan yang menutupi seluruh badan Sakti dengan tanah. Lalu kurungan berbentuk lingkaran itu makin lama makin merapat. Sakti makin bingung cara ia keluar. Lalu ia mengumpulakan seluruh tenaganya pada kedua tangannya. Dengan sekuat tenaga ia mengeluarkan tenaga dalamnya dari tangannya. Lalu keluarlah serangan seperti petir. Kurungan itu pun pecah seketika. Tanah yang tadinya kuat menjadi tanah gembur yang tidak berdaya. Akhirnya  Samudra mengakui kekalahannya dari sang kakak. Memang terbukti Sakti yang telah malang melintang di dunia persilatan memiliki pengalaman jauh lebih banyak dibandingkan dengan Samudra. Panji yang tadinya ingin mandi malah menyaksikan duel kakak beradik terlebih dahulu. Panji terkagum – kagum melihat duel tersebut. Di dalam hatinya ia ingin mengajak duel Sakti, namun sebelum itu ia ingin berlatih terlebih dahulu dengan Sakti. Licik tapi sangat berguna. Sakti yang telah menang duel langsung mengulurkan tangan kepada Samudra. Samudra pun memegang tangan Sakti. Setelah itu mereka berdua berjabat tangan dan saling berpelukan. Indahnya kasih sayang kakak beradik. Walaupun sering bertengkar mereka tetap saling menyayangi.

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada 02/07/2009 in Uncategorized

 

One response to “Kakak Beradik

  1. grmt

    07/20/2009 at 8:33 PM

    jancok

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: