RSS

Hari – Hari di SMAP

18 Feb

Jarum pendek masih menunjuk pada angka lima kurang. Pak Toha sudah siap – siap dengan tongkatnya. Dengan santainya ia mengetuk – ngetuk kaca semua kamar. Hanya kamar pembina yang tidak ia ketuk. Semua siswa terbangun dari tidurnya. Lampu kamar dinyalakan dengan terpaksa. Semua siswa keluar kamar menuju tujuan masing – masing. Bagi kelas 10 ke depan asrama perempuan kelas 10 dan bagi kelas 12 dan kelas 11 ke asrama perempuan kelas 12. Mata kami masih terpaksa terbuka. Hanya untuk menandatangani kertas absen. Bila tidak kami akan kena hukum. Paling ringan kita akan kena push up. Namun kalau yang tidak menandatangan hanya sedikit, maka tidak diberi tindakan apapun. Aku pernah tidak menandatangan. Aku dan teman – temanku pun terkena hukuman. Kami disuruh jalan jongkok dari asrama laki – laki kelas 10 ke asrama perempuan kelas 12. Setelah mengisi absen kami kembali ke kamar untuk bersiap – siap mengikuti apel pagi. Namun ada juga yang tidur kembali (aku ikut yang kelompok ini). Apel pagi adalah salah satu dari segelintir hal yang kami tidak sukai, bahkan kami benci. Lalu peluit Pak Toha berbunyi kencang dan membuat kuping kami bising. Ini tanda kami dipanggil untuk apel pagi. Kami harus memakai pakaian olahraga dan sepatu olahraga. Mata kami pun dipaksa untuk terbuka. Situasi seperti ini sangat kami kesal. Kami keluar dari kamar. Lalu mengunci pintu rapat – rapat. Kemudian kami menuju ke depan asrama perempuan kelas 12. Berdiri membentuk barisan tiap kelas. Dengan setiap kelas 3 bersaf. Lalu Pak Ujang berdiri di depan kami semua sebagai komandan apel. Kemudian setiap ketua kelas laporan kepada Pak Ujang. Kami semua harus menghafal kata – kata untuk laporan karena kami semua pasti menjadi ketua kelas. Setelah laporan Pak Ujang memulai apel pagi dengan perkataannya yang tidak berguna. “Bla bla bla!” Hanya kata – kata yang tidak penting yang dilontarkan Pak Ujang. Setelah itu kami berolahraga. Setiap harinya memiliki menu masing – masing. Hari Selasa senam, Rabu lari, Kamis PBB. Untuk Hari Senin kami hanya peribadatan dan Hari Jumat adalah memberi pengumuman saja. Hari Jumat adalah apel yang paling tidak penting karena kami hanya dikumpulkan untuk memberitahu bahwa setiap Hari Jumat harus mebersihkan kamar sampai ke dalam – dalamnya karena PKS (Petugas Kedisiplinan Siswa) akan memeriksa kamar sampai ke dalam. Setelah melaksanakan apel, kami semua kembali ke kamar untuk siap – siap berangkat sekolah.

Hari semakin terang. Matahari mulai menampakan dirinya. Tepatnya pukul 06.15 suara peluit mulai berbunyi kembali. Suara bising yang membuat kami pusing. Kali ini bukan pembina yang membunyikannya, namun para anggota PKS. Kami semua buru – buru untuk berbaris seperti apel pagi dengan yang sama pula. Bila kami telat memasuki area berbaris maka kami akan diberi hukuman. Setiap telat satu menit akan diberi hukuman 5 kali push up. Banyak murid terkena hukuman sampai 20 setiap harinya belum di tambah dengan hukuman bila kamar kotor. Aku termasuk dalam kelompok yang sering terkena hukuman. Lalu kami berjalan dalam barisan ke ruang makan. Disana kami harus masuk sambil hormat kepada sang merah putih dan mengatakan masuk. Biasanya kami hanya hormat saja karena kami malas mengatakan masuk. Kemudian kami mengisi tempat duduk yang disediakan. Kelas 12, kelas 11, dan kelas 10 duduknya dipisah. Lalu komandan batalyon memerintahkan untuk duduk siap. Setelah itu kami berdoa dan diistirahatkan kemudian mengambil makanan. Bila kami semua telah mengambil makan, ketua DKS atau DK memerintahkan untuk menyamtap makanan kami masing – masing. Kami semua makan dengan lahap, walaupun lauknya sangat tidak memihak pada lidah kami. Terkadang memang enak, namun itu hanya sesekali saja. Seminggu sekali saja jarang. Setelah menyantap makanan yang mungkin memiliki gizi yang standar, kami disiapkan kembali lalu berdoa dan keluar ruang makan. Kemudian kami melanjutkan perjalan ke sekolah masih dalam formasi barisan tiga banjar. Pada saat kami melewati pos penjagaan di asrama, kami harus melakukan langkah tegap kemudian kembali lagi ke  langkah biasa. Di saat memasuki gerbang sekolah, kami juga wajib melakukan langkah tegap dan ketua kelas harus hormat kepada satpam. Kemudian kami meletakkan tas sekolah yang telah diseragamkan di taman depan kandang iguana. Lalu Pak Ujang menyuruh kami untuk berbaris sesuai kelas dengan formasi tiga saf untuk mengikuti apel batalyon. Kami semua langsung menurut dan cepat – cepat masuk ke dalam barisan. Sebelum dimulai, ada seseorang yang dipanggil untuk membacakan doa pagi. Kemudian apel pun dimulai. Seluruh ketua kelas menyiapkan pasukannya karena komandan kompi memasuki lapangan upacara. Lalu komandan kompi menyuruh setiap ketua kelas untuk memeriksa kebersihan pasukannya. Yang mereka periksa adalah sabuk yang harus dibraso, baju dimasukan, dan sepatu wajib disemir. Bila tidak melakukan hal tersebut, siswa wajib terkena hukuman push up yang telah disesuaikan. Setelah itu ketua kelas melaporkan jumlah pasukan masing – masing. Kemudian ketua kelas kembali ke samping kanan barisannya. Sesaat kemudian, komandan batalyon memasuki lapangan upacara. Komandan kompi pun melaporkan bahwa upacara telah siap. Setelah itu komandan batalyon menyuruh kami berdoa. Siswa diberi tugas tadi pun membacakan doa pagi. Bila doa sudah selesai, siswa itu kembali ke dalam barisan. Dan datang lah hawa yang menegangkan. Di saat inilah akan dipilih dua orang untuk maju ke depan. Semua siswa berhak dipilih, namun hanya sedikit siswa yang menginginkannya karena dua orang itu dipanggil untuk membacakan Prasetya Siswa dan Kode Kehormatan Siswa. Setelah dua orang itu dipanggil, mereka harus mengucapkan itu dengan lantang dan tegas nanti siswa yang lain akan mengikutinya seperti pembacaan Pancasila. Bila tidak lantang para anggota DKS atau DK akan memperingatinya dan menghukumnya. Setelah pengucapan, para siswa diistirahatkan untuk mendengarkan pengumuman. Setelah pengumuman selesai, komandan batalyon akan membacakan hasil pemeriksaan PKS tentang kamar kotor. Lalu semua pasukan dibubarkan setelah komandan batalyon dan komandan kompi keluar dari lapangan upacara. Kemudian bagi pemilik kamar yang kotor akan terkena hukuman dari PKS.  Lalu kami semua mengambil tas dan masuk ke dalam kelas untuk belajar.

Pembelajaran di SMAP biasa saja seperti layaknya sekolah swasta lainnya. Hanya bertahan dengan 20 murid dalam satu kelas. Kelas dibagi menjadi 3 kelas. Kelas A, kelas B, dan kelas C untuk kelas 10. Selama 3 tahun ini kelas B adalah tempat berkumpulnya anak – anak yang mendapat beasiswa dari SMA Presiden. Aku termasuk dalam kelas B tersebut walaupun aku bukan penerima beasiswa. Namun aku lebih dekat dengan anak – anak yang menempati kelas C. Aku pun cukup dekat dengan kelas A, namun tidak seberapa dengan anak – anak kelas C. Kelas ku sangat lah kompak. Sampai saat ini kami tidak pernah membedakan satu sama lain. Malah kami membuat program yang disebut KECAP (KElompok CAbut Pelajaran). Kami pernah melaksanakan program kerja itu. Padahal hampir saja berhasil, tapi Pak Wawan telah menyadarinya. Kami yang semuanya berada di kantin, dipanggil Pak Wawan. Di dalam kelas pun kami selalu kompak. Sayangnya harus ada yang menjadi korban dari kekompakan ini. Namanya Mochammad Luthfi Hamid. Dia adalah anak yang selalu menjadi sasaran kekesalan kami. Selalu saja kami katai kapanpun dan dimanapun. Seluruh warga kelas B selalu mengatainya. Tapi memang dia orangnya sangat lebay dan dari tubuhnya pun tercium bau yang tidak sedap. Bau itu selalu keluar dari dalam tubuhnya. Sampai – sampai Bu Anna ingin muntah – muntah saat mengantarkan Luthfi ke dokter. Mungkin bau itu berasal dari kakinya yang jarang memakai kaos kaki. Tapi pada saat dia memakai kaos kaki pun bau itu terus beredar, malah lebih bau. Aku sering mengatai dia juga sampai – sampai dia hampir mengamuk saat pelajaran BK. Bukan mengamuk sih, tapi dia melontarkan kalimat yang sangat menusuk ke hatiku dengan nada yang kasar. Namun aku juga kasihan terhadapnya. Aku dan dia cukup dekat karena kami menyukai klub sepakbola yang menjadi rival. Aku menyukai Barcelona, dia menyukai Real Madrid. Namun kedekatanku tidak terlalu dekatnya. Aku sangat dekat dengan temanku yang berada di kelas C. Namanya Kandiyas Tigor Audi Nainggolan, Fernando Hieronimus Dewantara Putra, Bagaskara, dan Aditya Pratama. Mereka adalah teman dekatku di SMA Presiden sampai saat ini dan akan terus sampai nanti. Mereka sering datang ke rumahku. Apalagi Tigor alias Igon. Ia telah menginap di rumahku 3 kali. Pernah 4 orang sekaligus menginap di rumahku. Mereka adalah Igon, Dewantara alias Hiero, Aditya A.K.A. Tiplak, dan Andrew Chondrodiharjo alias Andrew. Kami bermain playstation dan menonton bersama di rumahku. Kami juga sempat bermain gokart. Pertandingannya sangat seru sampai – sampai aku dan Andrew bertabrakan. Aku terkena luka memar. Andrew mendapat luka yang lebih parah di kaki kirinya. Namun itu tak terasakan karena keasikan kami bermain gokart. Kami selalu bersama walaupun kelas kami berbeda. Kami juga mengerti satu sama lain. Persahabatan kami tidak akan putus sampai kapan pun dan pertemanan angkatan 5 tidak akan loyo sampai akhir hayat. Aku dan teman – teman angkatan 5 selalu bersama – sama dalam asrama ataupun di luar asrama.

Setelah pulang sekolah, biasanya kami mengikuti ekskul. Aku selalu mengikuti futsal setelah pulang sekolah. Bersama Igon, Bagas, dan lainya, aku mengikuti latihan futsal dengan sukacita. Kami di latih oleh Kak Dirman, namun ia jarang melatih sehingga Kak Isam, kapten tim futsal, melatih sendiri. Kami yang dianggap masih awam futsal oleh Kak Dirman selalu disemangati oleh Kak Isam. Kami selalu bermain dengan sukacita, apalagi pada saat game dimulai. Saat pulang sekolah juga banyak anak yang kembali ke asrama, makan di kantin, membaca buku di perpustakaan, dan bermain komputer di laboratorium komputer atau biasa kami sebut labkom. Setelah menjalani kegiatan masing – masing, kami semua kembali ke asrama untuk makan malam. Kami akan dipanggil pukul 18.30 dan harus mengikuti apel terlebih dahulu. Peluit makan malam pun berbunyi kencang. Anak – anak mulai keluar dari kamarnya. Ada pula murid yang baru selesai mandi. Ada pula yang berpura – pura sakit untuk tidak mengikuti apel. Setelah mengikuti apel kami pun makan seperti biasa di ruang makan. Lalu kami kembali ke kamar untuk belajar. Tapi faktanya kami sama sekali tidak belajar, hanya beberapa orang saja yang serius belajar. Biasanya kami bermain ke kamar lain atau meminta cemilan atau hiburan di kamar lain. Aku pun berkumpul dengan berbagai macam teman, asalkan kamar itu ramai. Malam pun mulai larut. Mata pun mulai mengantuk. Saatnya kami untuk tidur. Kami kembali ke kamar masing – masing, namun ada juga yang tidur di kamar orang.

Betapa serunya hidup di asrama SMA Presiden. Penuh kegembiraan dan keceriaan. Kami hidup disini selalu diingatkan untuk kompak karena kami semua akan menjadi teman dekat. Kehidupan asrama juga memiliki kelebihan dan kekurangan. Namun kami cukup senang berada di asrama SMA Presiden. Kami akan selalu kompak disini. Apalagi angkatan 5. Kita akan selalu menjadi teman, aku yakin itu.

 
4 Komentar

Ditulis oleh pada 02/18/2009 in SMA Presiden

 

4 responses to “Hari – Hari di SMAP

  1. Andrew

    02/19/2009 at 2:26 PM

    CADAS BROW

     
  2. Gilang Tampan

    02/19/2009 at 2:43 PM

    Cadas juga deh bro..!!! tapi nama gw kok gak di tulis sih..??? Parah deh lu…

     
  3. Andrew

    02/19/2009 at 2:46 PM

    CADAS BRO

     
  4. mcbmckpv

    04/25/2009 at 3:34 AM

    6DoFy3 ygafctqmmyxo, [url=http://ooovwfyjpiry.com/]ooovwfyjpiry[/url], [link=http://ouwzsnmrznvm.com/]ouwzsnmrznvm[/link], http://xtuiadvlpldd.com/

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: